Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Editorial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2011

EDITORIAL : Arogansi Investor

BUKAN kali ini saja perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kalimantan Tengah mengabaikan DPRD. Saatnya wakil rakyat menggunakan kekuatan politiknya untuk menekan perusahaan yang diduga bermasalah. Sebelumnya, DPRD tentu harus ‘bersih-bersih’ diri dulu.

Senin, 04 Juli 2011

EDITORIAL: Tuntaskan Persoalan PT TASK

PERKEBUNAN kelapa sawit seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, dia adalah primadona yang mampu mengangkat nilai ekspor dan ekonomi Kalimantan Tengah. Di sisi lain, dia kerap memunculkan persoalan dengan masyarakat. Pemerintah harus bersikap tegas sesuai rambu-rambu peraturan yang ada.
Surat kabar ini mewartakan Gubernur Kalteng, A Teras Narang, telah mengirimkan surat resmi menyikapi silang sengketa terkait salah satu perusahaan besar swasta (PBS) perkebunan sawit, PT TASK di Kotawaringin Timur. Karena banyak memunculkan masalah, dia meminta izin perusahaan tersebut dicabut.

Minggu, 03 Juli 2011

EDITORIAL : Mereformasi DPR

DPR perlu direformasi total. Langkah ini mendesak bila negeri ini ingin keluar dari belitan ketertinggalan di segala lini. Peran DPR yang begitu besar pasca reformasi, ternyata tidak membuat lembaga legislatif ini menjadi lebih baik dari era sebelumnya. Peran yang berlimpah atas nama wakil rakyat, justru membuat DPR makin tidak merakyat.  Bahkan tidak berlebihan rasanya bila ada penilaian bahwa DPR merupakan kontributor terbesar terjadinya karut marut di Indonesia.

Senin, 21 Februari 2011

Buruknya Pelayanan BPN

KASUS digeruduknya kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Palangka Raya oleh para pengembang properti di Kota Palangka Raya baru-baru ini, cukup mengejutkan kita. Bahkan mereka mengancam akan melakukan aksi besar-besaran di lantor BPN pada Selasa (22/2) nanti besok jika tak ada perubahan dalam pelayanan balik nama dan sertifikasi tanah.
Masalah ini tentu merupakan hal baru, karena dilakukan kalangan dunia usaha terkait ditutupnya pelayanan publik di Kantor BPN Kota Palangka Raya, khususnya yang terkait dengan balik nama dan sertifikasi.

Jumat, 21 Januari 2011

EDITORIAL: Jangan Politisasi Olahraga


HARI-HARI ini, duka nestapa sedang melanda olahraga kita. Ini terjadi karena pejabat dan politisi memasukkan pengaruhnya ke gelanggang. Padahal, olahraga harus dijauhkan dari unsur-unsur politik.
Di panggung nasional, PSSI tengah digoyang. Ketua Umum Nurdin Halid didesak mundur. Secara tak langsung, pemerintah –dari Presiden SBY hingga Menegpora Andi Mallarangeng, ikut menggoyang Nurdin Halid lewat restu mereka terhadap Liga Primer Indonesia (LPI).
Legalkah LPI? PSSI menyatakan tidak. Dari sudut pandang olahraga pun, LPI ilegal. Kecuali tak mendapat persetujuan PSSI, dari sudut pandang sosiologis olahraga pun tak ada satu negara yang memiliki dua kompetisi yang berbeda.
Tahukah akibatnya jika pemerintah, termasuk wakil rakyat, terus ikut campur terhadap PSSI? FIFA akan menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia. Indonesia bisa dilarang terlibat dalam aktivitas sepak bola internasional. Siapa yang rugi? Masyarakat sepak bola. Bukan SBY, bukan Andi Mallarangeng, bukan pula Arifin Panigoro, pemodal LPI.
Di panggung lokal pun, olahraga Uluh Itah sedang bermasalah. PON sudah di depan mata. Tahun ini, kualifikasi yang biasa disebut Pra-PON, akan berlangsung. Tahu-tahunya, anggaran untuk itu tak ada sama sekali dalam APBD.
Apa yang bisa kita baca dari peristiwa itu? Pemerintah Kalteng, termasuk wakil rakyat, tak memiliki kepedulian sama sekali terhadap olahraga. Bagaimana mungkin dana untuk Pra PON dan PON tak masuk dalam anggaran daerah?
Harusnya, para pemimpin Kalteng sadar, satu di antara sedikit bidang yang bisa melambungkan nama daerah ini di pentas nasional, adalah olahraga. Bayangkan, negara sendiri mengakui, kumandang Indonesia Raya di jagad internasional hanya bisa dilakukan jika pemimpin nasional berkunjung secara resmi ke negara lain atau ada atlet Indonesia yang jadi juara di pentas internasional. Selain itu, tidak sama sekali.
Jangan kita lupa, salah satu atlet Indonesia yang mengumandangkan Indonesia Raya pada pesta olahraga di Asian Games di Guangzhou tahun lalu, berasal dari Kalteng. Tapi, apresiasi dari daerah yang didapatkan dari keberhasilan tersebut sungguhlah minimnya. Kita, untuk itu, layak mengelus dada.
Kini, ketidakpedulian itu terpampang jelas di depan mata kita. APBD Kalteng tak menganggarkan dana untuk Pra PON dan PON. Sungguh sebuah ironi yang menyesakkan dada.
Apapun alasannya, tidaklah masuk akal dana untuk menghadapi event nasional itu tak masuk dalam APBD. Tak masuk akal bila alasan yang dikemukakan karena pengusulan anggaran itu tersangkut di satu tempat. Lebih tidak bisa diterima akal sehat lagi jika ada unsur-unsur kesengajaan mengabaikan anggaran untuk Pra PON dan PON nanti hanya karena Ketua Umum KONI Kalteng bernama Rinco Norkim.
Jika soal kedua ini yang ternyata muncul, maka pemerintah dan wakil rakyat kita, tak ada bedanya seperti SBY dan Andi Mallarangeng melihat olahraga. Mereka hanya melihat pada satu sisi yang akan memberi keuntungan politis buat mereka, tapi menutupkan mata pada masyarakat olahraga, masyarakat yang sangat mungkin lebih mengharumkan nama Kalteng ketimbang para pejabat dan politisi-politisi tersebut.***

Kamis, 20 Mei 2010

Gunakan Hati Nurani


SEMUA kandidat meminta untuk dipilih. Semua kandidat mengaku yang paling baik, dll. Makin gencar mereka menggalang dukungan. Sebab, terhitung mulai Selasa, 18 Mei 2010, Pemilukada Kalteng, memasuki masa kampanye.Kampanye memiliki makna, kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan di parlemen, kursi kepala daerah dan lain sebagainya, untuk mendapatkan dukungan massa pemilih di suatu pemungutan suara.
Mereka yang berebut suara itu adalah Amur – Bahar, Teras – Diran, A Yuliansyah – Didik Salmijardi dan Yuandreas – Basuki.
Masa kampanye merupakan tahapan paling meriah dalam pesta demokrasi. Sudah selayaknya disambut dengan suka cita. Tapi terkadang, di masa ini pula muncul gesekan-gesekan di tengah masyarakat. Maklum, persaingan calon, persaingan pendukung sudah sangat terbuka.
Bahkan, jauh sebelum masa kampanye tiba, gesekan-gesekan mulai muncul. Mulai dari perusakan sejumlah gambar pasangan calon hingga sejumlah protes yang dilayangkan tim sukses.
Saat dilakukan kesepakatan kampanye damai di Bundaran Besar Palangka Raya, Selasa (18/5), kita berharap semua kandidat konsisten dengan kesepakatan tersebut. Jangan hanya menjadi macan kertas saja, tanpa aplikasi di lapangan. Janji para kandidat yang menginginkan pemilukada lancar dan damai, siap menang dan siap kalah.
Komitmen damai ini tentunya harus mendapat apresiasi dari penyelenggara pesta demokrasi yakni, KPU. Lembaga ini diharapkan mampu menjadi penengah segala masalah yang muncul.
Artinya, tidak berpihak kepada salah satu pasangan, melainkan berpijak kepada aturan main pemilukada. Kekuatan hukum menjadi dasar dalam setiap mengambil kebijakan.
Apresiasi juga harus datang dari aparat keamanan. Sekalipun mereka menyatakan siap menang dan siap kalah, menginginkan pemilukada lancar dan damai, aparat keamanan tetap harus waspada.
Kemudian tak ketinggalan, masyarakat harus turut mengapresiasi. Caranya, tidak mudah tersulut oleh langkah dan kata-kata provokatif dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Namun kita percaya, kini masyarakat sudah cerdas. Masyarakat sudah memiliki kedewasaan politik, sehingga sulit dipengaruhi dengan hal-hal yang merugikan.
Untuk itu, kepada para kandidat dan tim sukses, gunakan cara cerdas untuk memengaruhi rakyat. Jadikan rakyat lebih pintar dengan menawarkan program, bukan janji-janji kosong, apalagi mengiming-imingi materi. Dan, biarkan rakyat menggunakan hati nurani.***

Rabu, 19 Mei 2010

Kampanye Pemilukada


M USIM kampanye pemilihan kepala daerah (Pemilukada) Gubernur/wakil Gubernur Kalteng dan Bupati/wabup Kotim dan Kobar sejak Selasa (18/5) kemarin dimulai.
Hari pertama kampanye dilakukan dengan pawai bersama di Kota Palangkaraya yang diikuti semua kandidat bersama tim sukses masing-masing.

Jauh sebelum kampanye pemilukada resmi dimulai, perang kata dan perang iklan sudah dimulai. Para anggota tim kampanye pun sudah saling menyerang di media massa. Upaya saling menjatuhkan itu bahkan sudah menjurus menyerang pribadi para kandidat.
Terus terang, sejauh ini yang muncul di hadapan publik bukanlah debat yang bermutu. Yang muncul adalah debat yang memalukan. Yang dikedepankan tim sukses bukanlah ketajaman berpikir, melainkan ketajaman kata-kata.
Kita berharap selama masa kampanye yang diadu adalah program yang diusung kandidat. Yang dikaji visi dan misi, bukan kepandaian bersilat lidah menyerang aspek privat dari masing-masing kandidat.
Tim sukses sewajarnya memberikan pendidikan politik kepada publik. Bukan bagaimana menyerang saingan dengan segala cara, dengan menghalalkan cara.
Melalui forum ini kita perlu mengingatkan tim sukses agar tidak mengumbar kampanye negatif. Demokrasi mengandaikan adanya rasa hormat yang tinggi kepada pikiran yang berbeda dan mampu memisahkan mana wilayah privat dan mana wilayah publik.
Sebaliknya, melalui forum ini kita pun mengajak publik untuk kritis terhadap cara-cara berkampanye. Jangan pilih pasangan yang tim suksesnya tidak santun, tidak menghormati saingan, dan yang ingin menang dengan semaunya.
Berilah apresiasi yang tinggi justru kepada pasangan yang tim suksesnya menghormati aturan main, santun berdebat, serta lebih mengedepankan program ketimbang adu mulut. Jangan terpukau dengan janji-janji surga. Namun, juga jangan terpikat dengan janji-janji yang terlalu realistis yang mudah dicapai karena itu menunjukkan kemalasan dan takut mengambil risiko.
Kita pun ingin mengingatkan bahwa pemilukada Kalteng 2010 ini berpotensi lebih rawan daripada pemilu legislatif karena menyangkut pilihan sosok. Oleh karena itu, semangat damai harus tetap dipelihara.
Berkampanyelah dengan harapan ketika hari pencontrengan tiba, rakyat tidak salah pilih karena tahu benar akan ke mana Provinsi Kalteng ini akan dibawa sang pemimpin.***